PENGARUH FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL FUNDAMENTAL EKONOMI MAKRO INDONESIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) PADA BURSA EFEK INDONESIA DI JAKARTA

OLEH:
I PUTU HENDRA SUPARJANA
I MADE ARTAWAN

Indonesia merupakan salah satu Negara emerging market terbesar dunia dengan GDP sebesar 5,8 % (data World Bank, 2013) menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara tujuan investasi global baik investasi real asset maupun financial asset. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Fundamental Ekonomi Makro Indonesia Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Pada Bursa Efek Indonesia”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh faktor internal eksternal fundamental ekonomi makro Indonesia sebagai variabel bebas seperti inflasi, BI rate, kurs USD, cadangan devisa, indeks DJIA, indeks S&P 500, indeks STOXX, indeks FTSE 100, indeks NIKKEI dan indeks SSE baik secara simultan maupun parsial terhadap Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Indonesia periode 2010 – 2014 dan faktor manakah yang memiliki pengaruh yang dominan.

Penelitian menggunakan sumber data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan dan dicatat langsung oleh pihak lain, dalam hal ini dilakukan oleh PT. Bursa Efek Indonesia, Bank Indonesia dan Yahoo! Finance. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah metode systematic sampling yaitu teknik pengambilan sampel berupa penarikan sample dengan cara mengambil setiap kasus (nomor urut) yang kesekian dari daftar populasi.

Variabel bebas dan variabel terikat yang diteliti adalah harga dan nilai penutupan perbulan dari tahun 2010 sampai 2014, sehingga jumlah sampel masing – masing variabel adalah 60 dengan jumlah 10 variabel bebas dan 1 variabel terikat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, uji signifikansi simultan uji F (F-test) dan uji signifikansi parsial uji t (t-test) dengan melakukan uji asumsi klasik (uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas dan autokorelasi) terlebih dahulu sebagai persyaratannya.

Berdasarkan hasil uji asumsi klasik model pertama tidak memenuhi persyaratan uji multikolinearitas dan autokorelasi, selanjutnya pengujian dilakukan menggunakan model kedua sebagai alternatif dengan cara menghilangkan variabel yang mengalami multikolinearitas dan autokorelasi sehingga variabel yang digunakan adalah inflasi, BI rate, kurs USD, cadangan devisa, indeks STOXX dan indeks SSE. Analisis regresi linier berganda pada model kedua diperoleh persamaan regresi Y = 2471,896 + 16,974 X1 – 245,770 X2 + 0,379 X3 + 0,030 X4 + 0,525 X7 – 0,130 X10.

Pengujian F-test untuk regresi linier berganda diperoleh besarnya Fhitung 341,206 yang lebih besar dari nilai Ftable 2,3423 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 berarti adanya pengaruh signifikan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Pengujian t-test dari hasil regresi di peroleh bahwa inflasi dan indeks SSE tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks harga saham gabungan. Sedangkan BI rate, kurs USD, cadangan devisa dan indeks STOXX memiliki pengaruh signifikan terhadap Indeks harga saham gabungan. Melalui uji beta, kurs USD merupakan variabel bebas yang berpengaruh paling dominan karena memiliki koefisien beta (β) paling tinggi yaitu 0,669.

Advertisements